Dumai – Newsline. Id – Jumat, 16 Oktober 2026 – Batik Dumai terus berkembang menjadi identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Mengangkat kekayaan budaya Melayu dan legenda Putri Tujuh, kerajinan batik khas Kota Dumai, Riau, kini mampu menghasilkan sekitar 100 lembar kain setiap bulan melalui kreativitas dan keterampilan perajin lokal.
Perkembangan tersebut berawal dari inisiatif Ketua TP PKK Kota Dumai, Hj. Leni Rahmaini, SKM, yang menggagas pembentukan Galeri Batik Dumai pada 2024. Berlokasi di Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, galeri ini menjadi wadah pemberdayaan 15 warga setempat yang didominasi ibu rumah tangga untuk belajar sekaligus mengembangkan keterampilan membatik.
Gagasan tersebut muncul dari keinginan menghadirkan wastra khas yang merepresentasikan sejarah dan budaya Kota Dumai. Berangkat dari pengalaman melihat daerah lain memamerkan batik khas masing-masing dalam sebuah pertemuan di Pekanbaru, Leni terdorong untuk mengembangkan batik sebagai identitas kebanggaan daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari proses pembelajaran dan pendampingan, para perajin mulai menghasilkan motif yang terinspirasi dari legenda Putri Tujuh serta kekayaan alam Melayu pesisir. Hingga kini, lebih dari 10 motif khas Batik Dumai telah diciptakan dan, berdasarkan keterangan dalam siaran pers PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), telah dipatenkan.

Proses pembuatan batik dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pemilihan bahan, pembuatan pola, penerapan malam menggunakan teknik tulis maupun cap, pewarnaan, hingga pelorotan dan penyelesaian akhir. Ketelitian dan kesabaran menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas setiap kain yang dihasilkan.
Seiring perkembangannya, Batik Dumai tidak hanya dipasarkan dalam bentuk kain, tetapi juga dikembangkan menjadi busana siap pakai, tas jinjing (tote bag), alas meja, dan berbagai suvenir. Produk-produk tersebut menyasar masyarakat umum, aparatur sipil negara (ASN), instansi BUMN/BUMD, lembaga pemerintah, hingga komunitas seni.
Karya para perajin lokal ini juga disebut telah tampil dalam ajang Fashion Fest International Awards 2025 dan Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand. Kehadiran dalam ajang tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan Batik Dumai ke panggung yang lebih luas.
Untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas produksi, para perajin kembali mengikuti pelatihan “Membatik Lanjutan” pada 8–12 September 2026. Pelatihan yang menghadirkan instruktur profesional dari Yogyakarta itu berfokus pada teknik pewarnaan lanjutan serta eksplorasi variasi teknik untuk memperkaya tampilan produk.
Program tersebut merupakan bagian dari pendampingan melalui Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan. Dukungan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembentukan galeri pada 2024, penguatan sarana dan prasarana produksi pada 2025, hingga peningkatan keterampilan perajin pada 2026.
“Batik Dumai di usia remaja ini saya rasa hal yang tidak bisa dilepaskan dari orang tuanya yaitu PT Pertamina Hulu Rokan. Harapannya kegiatan hari ini bukan menjadi langkah akhir, tapi merupakan langkah awal bagaimana nanti Batik Dumai ke depannya bisa lebih berkembang lagi,” ujar Leni Rahmaini.
Kolaborasi antara masyarakat, Pemerintah Kota Dumai, dan PHR diharapkan mampu memperkuat pelestarian budaya Melayu sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga perajin. Dengan mengolah cerita lokal menjadi karya bernilai seni, Batik Dumai terus bertumbuh sebagai identitas daerah yang memiliki potensi untuk berkembang di pasar yang lebih luas.
Penulis : GuL
Sumber Berita: Humas PhR









