Duri – Newsline.id – Saat banyak orang memilih menikmati masa pensiun dengan tenang, Emdita Dasmi justru melangkah ke jalan pengabdian yang tidak biasa. Baginya, berhenti bukanlah pilihan, terlebih ketika menyangkut masa depan anak-anak berkebutuhan khusus.
Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 menjadi pengingat akan kisah inspiratif tersebut. Setelah purna tugas dari Sekolah Cendana Duri, Emdita kembali ke dunia pendidikan dan mengabdikan dirinya di SLB Bumi Manggalo, sebuah sekolah yang menaungi siswa-siswa dengan berbagai kebutuhan khusus.
Di tempat inilah ia menemukan tantangan yang berbeda. Bukan sekadar mengajar, tetapi membangun kembali rasa percaya diri para siswa yang selama ini terkungkung rasa minder.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, bengkel kriya kayu di sekolah itu terasa sepi. Bukan karena tidak ada kegiatan, melainkan karena para siswa ragu untuk mencoba. Ketakutan akan kesalahan membuat mereka enggan menyentuh alat, apalagi menghasilkan karya.
“Yang paling berat bukan mengolah kayunya, tapi menghilangkan rasa takut dalam diri mereka,” ungkap Emdita.
Dengan jumlah tenaga pengajar yang terbatas dan fasilitas yang sederhana, proses pembelajaran pun berjalan apa adanya. Namun, titik perubahan hadir ketika PT Pertamina Hulu Rokan melalui program peningkatan kualitas pendidikan SLB memberikan dukungan nyata.
Bantuan peralatan dan pelatihan metode pengajaran adaptif membuka jalan baru. Emdita pun tak ragu kembali menjadi “murid”, meski telah puluhan tahun mengajar. Ia mengubah pendekatan, dari sekadar memberi instruksi menjadi pendamping yang mendorong siswa untuk berani mencoba.

Perlahan, perubahan mulai terasa. Bengkel yang dulu sunyi kini dipenuhi suara aktivitas. Ketukan palu, gesekan kayu, hingga tawa para siswa menjadi tanda tumbuhnya kepercayaan diri.
Kini, para siswa tidak lagi takut mencoba. Mereka mulai berani menunjukkan hasil karya, sekecil apa pun itu, dengan rasa bangga.
Bagi Emdita, keberhasilan bukan terletak pada hasil akhir, melainkan pada perubahan dalam diri siswa.
“Yang paling menyentuh adalah ketika mereka mulai percaya bahwa mereka mampu,” tuturnya.
Dukungan dari dunia industri pun dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pendidikan inklusif. Program yang dijalankan tidak hanya memperbaiki fasilitas, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan membangun kepercayaan diri siswa.
Semangat Hari Pendidikan Nasional tahun ini seakan menemukan maknanya dalam kisah tersebut. Bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang ketulusan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi.
Di tangan yang penuh dedikasi, sepotong kayu yang kasar dapat berubah menjadi karya bernilai. Begitu pula masa depan anak-anak istimewa di SLB Bumi Manggalo yang kini perlahan tumbuh, membawa harapan baru yang semakin nyata.
Penulis : GuL
Sumber Berita: Humas PhR









